Search

kapitaselekta
RSS

Jurnalisme Investigasi (catatan)

JURNALISME INVESTIGASI

Dosen: Nezar Patria


Jurnalisme investigasi dengan jurnalisme biasa bedanya kalau jurnalisme investigasi mengungkapkan fakta baru yang belum diketahui.

Berita investigasi adalah berita hasil laporan investigasi sendiri, dihasilkan dengan metode-metode investigasi antara lain dengan kekayaan sumber berita, observasi, wawancara yang luas, dan riset yang mendalam.

Sedangkan berita tentang investigasi adalah berita yang ditulis tentang laporan investigasi.

Karakter/ciri-ciri liputan investigasi harus memenuhi tiga hal antara lain:

1. 1. Harus mengungkapkan fakta baru

Contoh: pada peristiwa perampokan bank CIMB Niaga, hal-hal yang perlu dilakukan investigasi lebih lanjut adalah bahwa perampokan tersebut terorganisir, senjata yang digunakan adalah AK-47 dan AK-46 (biasa digunakan oleh Brimob dan beberapa satuan TNI). Hal ini perlu dilakukan investigasi lebih lanjut karena untuk memberitahu public kalau warga sipil yang tidak memiliki lisensi tetapi memiliki senjata tersebut telah melanggar hukum. Pertanyaannya adalah darimana senjata tersebut didapatkan?? Inilah peran dari jurnalis investigasi.

2.
Mendalam, detail dan orisinil

3.
Menyalahgunakan kekuasaan.

Dalam buku Investigate Techniques, Sheila S. Coronel menyebutkan bahwa jurnalisme investigasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Jurnalisme investigasi berupaya membongkar/menemukan fakta baru yang ditutupi ke public
  2. Jurnalisme investigasi merupakan laporan mendalam (indeepth reporting), detail dan orisinil. Indeepth reporting adalah laporan yang lebih detail dan mendalam karena mengandung banyak sumber dengan observasi, wawancara, sumber-sumber lebih lengkap dan detail disbanding berita-berita di koran. Indeepth reporting memiliki waktu yang panjang. Contoh: skandal Water Gate yang diterbitkan oleh The Washington Post. Water Gate adalah nama hotel dimana agen CIA disusupkan ke sana untuk membongkar Partai Demokrat oleh pemerintah namun akhirnya tertangkap dan diusut. Skandal ini mencapai 300 artikel.
  3. Liputan investigasi selalu mencari bukti tertulis dengan menggunakan metode pelacakan dokumen (paper trail), wawancara orang-orang yang terlibat (human trail) secara ekstensif dan intensif, metode pelacakan elektronik (e-trail) terkadang juga menonjol dalam liputan ini.
  4. Reporter investigasi tak jarang menggunakan cara-cara polisi untuk membongkar kejahatan. Misalnya metode penyamaran, memakai kamera dan alat rekam tersembunyi, serta memata-matai. Tujuannya untuk membongkar informasi jahar yang dirahasiakan ke public dan berbahaya untuk kepentingan publik.
  5. Terkadang menimbulkan dampak (journalism with an impact) berupa perbaikan sistem, mundurnya pejabat, skandal terlibat mundurnya Presiden Amerika Serikat Richard W. Nixon tahun 1974, impeachment Presiden Filipina Joseph Estrada tahun 2001. Di Indonesia, mundurnya Presiden Abdurrahman Wahid, Akbar Tanjung (Bulog Gate).

Jurnalisme investigasi masih baru di Indonesia (± 100 tahun di Indonesia) baru muncul tahun 1974 - liputan tentang korupsi TMII dan Pertamina oleh Harian Indonesia Raya (Mochtar Lubis).

Tahun 1994 - ada tiga media yang dibredel yaitu Detik, Tempo, dan Editor atas pemberitaan mengenai kasus kapal selam (terkait Habibie)

Setelah itu jurnalisme investigasi seperti mati dengan dibredelnya harian tersebut. Media Indonesia menyiasati dengan memberikan reportase yang kritis supaya Presiden Soeharto tidak marah dan tidak membredel Media Indonesia.

Tahun 1998 - saat turunnya pemerintahan Soeharto, kebebasan pers bangkit lagi di Indonesia (berkah reformasi). Di tahun ini juga koran Tempo mengeluarkan rubrik investigasi mengenai Kerusuhan Mei 1998.

Teknik wartawan investigasi

  • Mengendus, dari luar ke dalam yaitu jalinan fakta dari petunjuk awal didapat, mutar dulu ke luar baru ke dalam, tidak langsung ke intinya. Istilah dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah teknik makan bubur.

Ringkasan Proses Investigasi

Secara ringkas, proses jurnalisme investigasi itu bersifat seperti berikut ini:.

  • Riset dan reportase yang mendalam dan berjangka waktu panjang untuk membuktikan kebenaran atau kesalahan hipotesis;
  • Paper trail (pencarian jejak dokumen) yang berupa upaya pelacakan dokumen, publik maupun pribadi, untuk mencari kebenaran-kebenaran untuk mendukung hipotesis;
  • Wawancara yang mendalam dengan pihak-pihak yang terkait dengan investigasi, baik para pemain langsung maupun mereka yang bisa memberikan background terhadap topik investigasi;
  • Pemakaian metode penyelidikan polisi dan peralatan anti-kriminalitas. Metode ini termasuk melakukan penyamaran. Sedangkan alat-alat bisa termasuk kamera tersembunyi atau alat-alat komunikasi elektronik untuk merekam pembicaraan pihak-pihak yang dianggap tahu persoalan tersebut. Ini memang mirip kerja detektif;
  • Pembongkaran informasi yang tidak diketahui publik maupun informasi yang sengaja disembunyikan oleh pihak-pihak yang melakukan atau terlibat dalam kejahatan.

Langkah pekerjaan investigasi umumnya dilakukan dalam dua bagian. Yaitu:

Pertama
    • Petunjuk awal (first lead)
    • Investigasi pendahuluan (initial investigation)
    • Pembentukan hipotesis (forming an investigative hypothesis)
    • Pencarian dan pendalaman literatur (literature search)
    • Wawancara para pakar dan sumber-sumber ahli (interviewing experts)
    • Penjejakan dokumen-dokumen (finding a paper trail)
    • Wawancara sumber-sumber kunci dan saksi-saksi (interviewing key informants and sources)

Kedua

    • Pengamatan langsung di lapangan (first hand observation)
    • Pengorganisasian file (organizing files)
    • Wawancara lebih lanjut (more interviews)
    • Analisa dan pengorganisasian data (analyzing and organizing data)
    • Penulisan (writing)
    • Pengecekan fakta (fact checking)
    • Pengecekan pencemaran nama baik (libel check)

Kesulitan dan hambata

  • Keterbatasan waktu (tenggat deadline), dana dan sumber informasi.
  • Keraguan editor (maju atau tidak, dan lain-lain), conflict of interest antara media temapat kita bekerja dengan investigasi yang mau kita lakukan.
  • Tentangan dari perusahaan tempat bekerja dimana takut merugikan job perusahaan.
  • Kasus white collar crime kurang menjadi perhatian public ketimbang kasus politik (Bulog Gate, dan lain-lain).

Orang yang memberikan petunjuk awal mengenai suatu kasus untuk dilakukan investigasi lebih lanjut disebut whistle blower.

Seorang jurnalis investigasi harus memiliki sikap skeptis yaitu sikap ragu-ragu, suatu informasi yang diterima harus dilakukan secara kritis, diperlakukan dua sisi baik dari sisi apa yang dibocorkan dan dari sisi si pembocor.

Insert investigasi sebenarnya tidak layak disebut investigasi melainkan hanya gossip yang mendalam. Insert investigasi dianggap telah melanggar batas-batas pribadi.


Reportase adalah praktik jurnalistik yang paling penting.

Tiga sumber informasi

  1. Observasi (fakta, fakta dan fakta) yaitu wartawan ke TKP langsung, merasakan, mendengar, dan mewawancarai.
  2. Dokumen
  3. Wawancara (off/on the record, background info)

Off the record yaitu tak satupun kata/informasi yang keluar dari mulut narasumber yang dapat dikutip (nama, jabatan, dan lain-lain). Jadi seperti tidak ada pertemuan. Jika nasumber sudah berkata off the record berarti nasib wartawan itu sudah tamat. Off the record berguna hanya untuk menambah wawasan, agar bisa membaca “peta” yang lebih besar.

Background yaitu wartawan bisa menulis informasi yang disajikan tetapi tidak menulis nama narasumbernya. Background dibagi menjadi:

  1. Background informasi yaitu si sumber bisa disebut namanya tapi disamarkan, lembaga dapat disebutkan. Contoh: seorang Perwira Tinggi di Bareskrim, Mabes Polri……
  2. Depth background yaitu kita tidak bisa menyebutkan nama dan lembaga (tidak spesifik), contoh. Seorang Perwira Tinggi di Mabes Polri…………..(Mabes Polri lebih luas daripada Bareskrim Mabes Polri).

Level validitas informasi

Yang paling bagus adalah informasi dari on the record dimana semua perkataan, nama, lembaga narasumber boleh dikutip. Informasi ini bersifat golden.

Dalam istilah di badan intelijen, sumber yang sangat kompeten dinamakan A1 yaitu pelaku langsung bicara, dekat dan terlibat, dan seterusnya.

Cari sumber yang kompeten, yang levelnya kuat contoh Komandan Densus 88 dan cari juga yang bersifat normatif misalnya dari Juru Bicara Presiden.

Batasan kenapa sumber mengatakan off the record yaitu karena ia mau member informasi tetapi tidak mau membahayakan dirinya.

Anonimitas yaitu tidak ada nama dan lembaga, kalau bisa jangan menggunakan anonimitas karena di pengadilan tidak bisa menang (ancaman penjara), tetapi sekarang sumber dapat dibuka identitasnya oleh wartawan jika ketahuan informasi yang diberikan tidak benar.

Tahap wartawan yaitu melakukan check, double check dan tripel check:

  1. Yakin pada si anonimitas
  2. Verifikasi dokumen asli atau palsu
  3. Cek tembusan, kalau sama berarti asli / orisinil

Refleksi diri:

Jurnalisme investigasi seperti yang telah dijelaskan diatas adalah salah satu kegiatan jurnalistik yang mencoba mengungkapkan suatu fakta baru yang belum diketahui. Sebagai contoh kasus perampokan bank CIMN Niaga yang dilakukan sekawanan perampok dengan menggunakan senjata api laras panjang. Sudah diketahui bahwa perampokan itu terorganisir dan senjata yang digunakan adalah jenis AK-47 dan AK-16. Hal ini perlu dilakukan investigasi lebih lanjut lagi mengenai bagaimana kawanan perampok itu mendapatkan senjata yang biasanya digunakan oleh Brimob dan TNI. Selain itu penangkapan perampok bank CIMB Niaga adalah tim Densus 88, hal ini menimbulkan pertanyaan apakah peristiwa perampokan ini terkait tindakan terorisme di Indonesia atau tidak? Fakta-fakta baru inilah yang harus dijawab oleh jurnalis investigasi dan untuk kemudian diberitahukan kepada publik.

Selain itu, baru-baru ini Indonesia kembali menangis. Saudara-saudara kita yang mengalami kecelakaan kereta api di Petarukan belum lama ini kembali menjadi korban. 34 orang meninggal dunia dan belasan luka-luka. Melihat kondisi ini saya merasa miris dan sedih. Betapa ironisnya, di saat pemerintah mengumumkan anggaran untuk merenovasi gedung DPR sebanyak 1, 3 triliun, sementara itu masih banyak yang perlu diperbaiki demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kecelakaan transportasi yang sudah sering terjadi dimana-mana mengingat sarana prasarana yang seharusnya sudah diganti karena sudah tua, memang tak luput dari human error namun technical error pun pasti menjadi sebab kecelakaan terjadi. Dana yang seharusnya dipakai untuk hal-hal yang lebih penting dan mendesak seperti memperbaiki sarana dan prasana pendidikan, menanggulangi banjir, pergantian alat-alat transportasi dengan yang lebih baru dan lain-lain malah digunakan untuk merenovasi gedung DPR dengan fasilitas yang terbilang “wah”. Tentunya bagi masyarakat awam seperti kami akan mempertanyakan apakah kualitas kinerja DPR akan semakin meningkat dengan renovasi dan segala fasilitas baru tersebut ataukah akan menurun? Dan apakah bijaksana jika anggaran dana tersebut digunakan untuk merenovasi gedung DPR dengan budget sebesar itu sementara masih banyak pekerjaan-pekerjaan rumah pemerintah Indonesia yang belum dibenahi? Sangat ironis memang.

-


oleh:

Yoretta Yang Wahyudi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar